Hari ini, seperti biasa setelah bangun pagi aku mandi dan kemudian sarapan. Tak lupa kunyalakan TV dan kulihat berita pagi ini. Berita dimulai dengan seorang masyarakat miskin yang sakit parah namun takut untuk pergi ke rumah sakit karena tidak mampu membayar biaya pengobatan, namun orang tersebut sekarang sudah terselamatkan jiwanya setelah pihak RS mau mengobati dengan adanya Askeskin.
Setelah sarapan aku pun berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilku. Aku teringat kembali betapa susahnya dahulu ketika jalanan masih berupa tanah dan banyak lubangnya. Alhamdulillah sekarang jalanan sudah mulus berasapal dan tidak banyak lubangnya seperti dahulu. Ketika tepat di sebuah pom bensin langgananku, aku berhenti untuk isi ulang energi kendaraan yang telah lama menemaniku tersebut. Harga BBM sekarang mahal, namun setelah dihitung-dihitung ternyata harga tersebut ternyata lebih murah karena ada subsidi yang diberikan oleh pemerintah, dan sekarang juga terdapat BBM bersubsidi khusus bagi masyarakat miskin.
Di suatu perempatan, aku memperhatikan dua orang polisi yang mengatur lalu lintas. Asap, debu, dan kebisingan kendaraan tidak dihiraukan demi sebuah tugas bagi negara untuk menjamin ketertiban masyarakat yang selalu saja melanggar lalu lintas. Aku kemudian membayangkan, bagaimana jika tidak ada polisi ya…? Kupirikir sepertinya aku tidak bisa sampai ke kantor tepat waktu setiap harinya karena macet. Terima kasih pak polisi..
Seperti biasa, sebelum sampai ke kantor aku mengantarkan anakku yang sekarang duduk di sekolah negeri. Teringat guruku dahulu yang mengajarku… Sekarang aku sudah menjadi seorang manajaer yang sukses, namun guruku yang darinya aku menjadi seperti saat ini, masih saja menjadi seorang guru biasa ketika aku bersilaturrahmi lebaran tahun lalu. Aku juga teringat, ketika aku akan bersekolah aku harus pergi ke sekolah dengan berjalan kaki sampai 10 kilo, pergi subuh dan sampe kerumah kembali sudah sore. Sekarang ini anakku dapat memilih sekolah dimana yang dia mau dan tersedia banyak fasilitas dengan gedung yang megah.
Sampailah aku di kantor, sebelum mulai bekerja aku sempatkan membaca headline sebuah surat kabar. Surat kabar tersebut menyatakan adanya antrian masayarakat terhadap pupuk bersubsidi. Ternyata banyak masayarakat golongan menengah ke bawah yang masih memerlukan pupuk bersubsidi.
Kemudian aku termenung, ternyata sepanjang perjalananku ke kantor, banyak sekali kebutuhan-kebutuhanku yang tidak bisa aku penuhi sendiri dan memerlukan orang lain atau pemerintah untuk menjalankannya. Mulai dari jalan, BBM, polisi, guru yang bisa membuat aku seperti ini, dan hal-hal lainnya. Selain itu, banyak sekali masyarakat terutama golongan menengah ke bawah yang untuk menyambung hidup dan jiwanya memerlukan bantuan dari masyarakat lain yang dapat berupa Askeskin, pupuk dan BBM bersubsidi. Maka jika ada yang harus diberikan ucapan sebagai seorang pahlawan saat ini, maka orang tersebut adalah orang yang mau memberikan sebagain hartanya untuk membantu orang lain. Pikiranku mengembara lagi, dan kembali kepada kesimpulan bahwa Yang membuat Jalan ini Mulus adalah Pembayar Pajak, yang dapat menggaji polisi, guru dan aparat lainnya adalah pembayara pajak, yang dapat memberikan subsidi kepada masyarakat tidak mampu adalah pembayar pajak, yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang dengan adanya Askeskin adalah pembayar pajak, yang dapat…… adalah Pembayar Pajak.
Maka….
Terima Kasih …. Wahai Pembayar Pajak…. Engkaulah Pahlawan Kami Hari Ini……
Tulisan ringan ini kupersembahkan bagai para Pembayar Pajak…
Bang Ami